Gairah Panas Pasienku



Sudah masuk tahun ketiga aku buka praktek di sini semuanya berjalan biasa-biasa saja seperti layaknya praktek dokterr umum lainnya. Pasien bervariasi umur dan status sosialnya. Pada umumnya datang ke tempat praktekku dengan keluhan yang juga tak ada yang istimewa. Flu, radang tenggorokan, sakit perut, maag, gangguan pencernaan, dll.

Akupun tak ada masalah hubungan dengan para pasien. Umumnya mereka puas atas hasil diagnosisku, bahkan sebagian besar pasien merupakan pasien “langganan”, artinya mereka sudah berulang kali konsultasi kepadaku tentang kesehatannya. Dan, ketika aku iseng memeriksa file-file pasien, aku baru menyadari bahwa 70 % pasienku adalah ibu-ibu muda yang berumur antar 20 – 30 tahun. Entah kenapa aku kurang tahu.

“Mungkin dokter ganteng dan baik hati” kata Nia, suster yang selama ini membantuku.

Mertua Kakak



Aku Dina. waktu kakakku nikah tentu aja aku harus ngebantuin, aku menjadi salah satu dari tim penerima tamu. Aku ngajak temenku untuk bantuin sebagai penerima tamu, dua lagi temen kakakku. Sebenarnya bukan kakak kandung tapi anak dari tanteku dan aku numpang dirumah tanteku. Pestanya meriah juga, tamu lumayan banyak sehingga kami tim penerima tamu sampe gak sempet makan karena harus melayani tamu yang mengalir kaya banjir yang mudah2an gak mampir di ibukota lagi. Setelah tamu mereda, dan sudah menjelang berakhirnya resepsi, barulah kami secara bergantian ngambil makanan dan minuman, dan kebagian cuma makanan di meja prasmanan karena makanan di saung yang biasanya enak2 dah abis ludes sampe sambel2nya. ya gak apa, yang penting masi ada yang dimakan lah.

Ketika ngambil makanan itu aku amprokan ma mertua kakakku. Si om ganteng banget deh malem itu dalam jasnya, gak kalah ma anaknya yang jadi penganten. Dia senyum2 ketia melihat aku. "Kamu siapa ya, kok bisa bantuin jadi penerima tamu". "Dina om, adiknya mempelai prempuan".

ML Dengan Adik Kecil

Aku kost di daerah Senayan, kamarku bersebelahan dengan kamar seorang gadis manis yang masih kecil, tubuhnya mungil, putih bersih dan senyumnya benar-benar mempesona. Dalam kamar kostku terdapat beberapa lubang angin sebagai ventilasi. Mulanya lubang itu kututup dengan kertas putih.., tapi setelah gadis manis itu kost di sebelah kamarku, maka kertas putih itu aku lepas, sehingga aku dapat bebas dan jelas melihat apa yang terjadi pada kamar di sebelahku itu.

Gara - Gara Kunci Rumah Dibawa Teman

Namaku Hendriansyah, biasa dipanggil Hendri. Saat ini aku kuliah di salah satu Akademi Pariwisata sambil bekerja di sebuah hotel bintang lima di Denpasar, Bali. Kisah yang aku ceritakan ini adalah kisah nyata yang terjadi terjadi saat aku masih duduk di kelas II SMA, di kota Jember, Jawa Timur.

Saat itu aku tinggal di sebuah gang di pusat kota Jember. Di depan rumahku tinggalah seorang wanita, Nia Ramawati namanya, tapi ia biasa dipanggil Ninik. Usianya saat itu sekitar 24 tahun, karena itu aku selalu memanggilnya Mbak Ninik. Ia bekerja sebagai kasir pada sebuah departemen store di kotaku. Ia cukup cantik, jika dilihat mirip bintang sinetron Sarah Vi, kulitnya putih, rambutnya hitam panjang sebahu. Namun yang paling membuatku betah melihatnya adalah buah dadanya yang indah. Kira-kira ukurannya 36B, buah dada itu nampak serasi dengan bentuk tubuhnya yang langsing.

Kenikmatan Yang Aneh

Jam sekolah sudah berakhir, aku bersiap-siap untuk pulang.

Tiba-tiba seorang temanku yang bernama Agus, menghampiriku. "Be, mau ikut ga?" Tanyanya.

"Kemana?" Jawabku singkat.

"Ke villa di atas, ada acara berisik." Katanya. Dia bilang acara berisik untuk menyebutkan acara musik hardcore.

Ia, dulu aku suka dengerin musik seperti itu. Lumayan bisa liat orang teriak-teriak.

"Oya? Kapan?" Tanyaku lagi. Sambil berjalan keluar kelas.